Pak Jegeg adalah seorang petani dan pedagang kelontong di Bali. Kesehariannya dia menjual kelapa dari kebunnya ke pasar-pasar, sementara istrinya berjualan dirumah. Kelapa-kelapa yang sudah tua tersebut oleh pak Jegeg diangkut dengan gerobak yang terbuat dari kayu dan onderdil bekas. Pada saat-saat tertentu dia juga berjualan minuman keras bagi warga sekitar rumahnya.

Nengah, seorang perempuan yang cantik dan subur saat itu sedang menyusuri jalan sebuah desa di Jogja. Ia tengah mencari kost untuk adiknya yang akan kuliah semester ini. Komang diterima di jurusan Teknik Informatika, sedangkan Nengah sang kakak, sedang menyusun tugas akhirnya. Keduanya kuliah di STMIK AMIKOM Yogyakarta. Bagaimana dengan pak Jegeg? Beliau adalah ayah dari Nengah (MI ‘98) dan Komang (TI ‘00) yang terus bekerja keras di ladang demi sekolah anak-anaknya.

Gedung Ungu
Tak terasa (dan mungkin luput dari catatan), sudah banyak keluarga yang menyekolahkan anaknya di Amikom. Tidak hanya satu, bahkan dua, tiga atau mungkin ada generasi baru yang terbentuk di Amikom. Keluarga pak Jegeg dari Bali adalah salah satu contohnya. Beberapa keluarga yang lain juga menitipkan beberapa anaknya di Amikom. Tata (MI ‘05) dan kakaknya (TI ‘01?) pernah kuliah di Amikom, bahkan keduanya pernah pula bekerja di salah satu bagian.

Endra Prasetya (SI ‘02) dan Erwan (TI ‘02) adalah kakak beradik yang kuliah satu angkatan. Sang ayah tidak menyuruh mereka mengikuti jejaknya menjadi seorang polisi seperti halnya keluarga aparat yang lain. Justru kedua anaknya dipercayakan masa depannya di sebuah lembaga pendidikan komputer. Namun pilihannya tak salah, sebab jauh sebelum kedua anaknya lulus mereka telah bekerja di BUMA (badan usaha milik amikom) bidang periklanan.

Saya sendiri mempunyai pengalaman yang sama dengan kampus yang terletak di depan UPN ini. Penulis memutuskan berhenti dari semester 7 Akuntansi Internasional Program UII. Bersama adik saya mulai lagi dari semester 1 di tahun 2002. Saya memilih D3 Manajemen Informatika sedang adik saya D3 Teknik Informatika. Bahkan istri saya juga merupakan lulusan Amikom, satu angkatan dengan Komang.

Masih banyak data yang bisa digali dari keluarga yang menitipkan beberapa anaknya di Amikom. Adi Dj (angk. ‘03) dan adiknya (angkt. ‘05?) merupakan warga Jogja yang juga berharap bisa menapaki masa depan yang cerah bersama mahasiswa Amikom yang lain. Data-data tersebut diatas hanya mewakili kelompok saudara sekandung saja. Apabila responden ditambah dengan saudara sepupu dst, maka akan lebih banyak lagi.

Dari gambaran diatas menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan keluarga yang telah menitipkan anak nya di Amikom masih sangat tinggi. Mengingat keluarga mereka bukan hanya berasal dari satu kota, bahkan hingga ke luar pulau. Keluarga mereka bisa saja memilih sekolah sejenis di kota terdekat, atau ke perguruan tinggi lain di Jogja. Namun ternyata rekomendasi keluarga sebelumnya mampu mengatasi hambatan geografis maupun psikologis.

Fenomena tersebut dapat menjadi bumerang bagi Amikom apabila tidak dilakukan strategi yang tepat. Semakin banyak mahasiswa, berarti semakin banyak pula persoalan yang dihadapi. Ketidakpuasan segelintir mahasiswa akan berakibat loyalitas beberapa keluarga akan menurun. Jadi, jangan heran bila suatu saat nanti jumlah pendaftar mahasiswa baru akan menurun seperti halnya universitas swasta lain.

Strategi yang bisa dilakukan sebenarnya sederhana namun harus memiliki sistem koordinasi yang baik. Misalnya dengan memberikan potongan biaya apapun sebesar 25% kepada saudara sekandung yang masih aktif sbg mahasiswa. Atau tambahan kuota peminjaman buku perpustakaan dari 2 menjadi 3 buah buku dengan waktu peminjaman 3 minggu. Bisa pula dengan memberikan beberapa kemudahan dalam hal beasiswa atau tiket gratis pulang kampung.

Akhirnya, keluarga mana yang nggak senang kalo anaknya kelak masuk Amikom, dengan jenjang karir yang bagus, biaya kuliah murah, teknologi seabreg, kemudahan layanan, ada acara gerebeg sahur, plus pulang kampung diantar hingga tujuan lagi… Hmmm asyiknya..!

Note: Tulisan ini pernah di posting di blog Pak Bhanu.

Buzz it!
Share and Enjoy:These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • blogmarks
  • del.icio.us
  • digg
  • Furl
  • NewsVine
  • Reddit
  • Simpy
  • YahooMyWeb